WEBINAR FISIKA MENGABDI Tahun 2024 (SERI – 1)

WEBINAR FISIKA MENGABDI:
KOLABORASI ILMU DAN AKSI NYATA UNTUK PENDIDIKAN BERKELANJUTAN (SERI – 1)

Perguruan tinggi memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Aktivitas pengajaran dan penelitian di perguruan tinggi diharapkan dapat diimplementasikan ke dalam permasalahan nyata. Salah satunya melalui program pengabdian kepada masyarakat yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab dosen. Seperti yang dilakukan oleh dosen prodi Pendidikan Fisika dan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia beberapa waktu lalu. Pada hari Sabtu, tanggal 16 November 2024, diselenggarakan Webinar dengan beberapa topik bahasan diantaranya “Etno Fisika pada pembelajaran Fisika”, “Melatih Keterampilan Proses Sains melalui Virtual Lab PhET”, dan “Pemanfaatan green industri sel surya dalam pembelajaran fisika (STEM / Science, Technology, Engineering, dan Mathematics dalam pembelajaran Fisika)” yang berkolaborasi dengan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Para peserta yang hadir dalam webinar tersebut menunjukkan curiosity mereka dalam proses pembelajaran pendidikan Fisika. Di akhir sesi 1 dengan topik Etno Fisika pada Pembelajaran Fisika, seorang peserta mengajukan pertanyaan yang bersifat praktis, “Apakah tes diagnostik awal digunakan untuk acuan memilih media ataupun masalah yang dekat dengan lingkungan siswa atau hanya digunakan untuk mengklasifikasi siswa berdasarkan kemampuan awal?”. Pemateri Dr. Winny Liliawati, M.Si. menjawab, “Jika dikaitkan dengan pembelajaran terdiferensiasi maka prinsipnya adalah kita menghargai dan mengakui keberagaman kemampuan individu. Hal tersebut diaktualisasikan dengan mengidentifikasi keberagaman kemampuan individu siswa melalui tes diagnostik dan memperhatikan hasil tes tersebut sebagai acuan perencanaan proses pembelajaran. Tes diagnostik tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi tiga hal pokok yaitu: (i) kondisi/kesiapan pengetahuan awal siswa, (ii)  minat/ketertarikan siswa, dan (iii) learning profile (faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam belajar seperti kecerdasan, gender, budaya, dan gaya belajar).”

Pada akhir sesi 2, dengan topik Melatih Keterampilan Proses Sains melalui Virtual Lab PhET yang disampaikan oleh Raden Giovanni Ariantara, M.Pd. dan tim, terdapat peserta (yang merupakan seorang guru) bertanya, “Penggunaan praktikum yang instan saya rasa dapat menurunkan tingkat partisipasi siswa, bagaimana cara menghindari hal tersebut dan bagaimana cara melatihkan Keterampilan Proses Sains agar tetap utuh dalam pelaksanaannya?”. Pemateri menjawab bahwa penggunaan aplikasi instan (contoh: PhET) sebaiknya dilakukan setelah eksperimen di laboratorium dilakukan sehingga sesuai dengan hakikat pembelajaran Fisika yaitu Minds On dan Hands On. Arahkan siswa untuk merancang masalah lalu diskusikan bagaimana penyelesaiannya. Hal tersebut ditujukan agar siswa benar-benar mengukur sendiri atau bereksperimen sendiri secara langsung hingga mengolah datanya. Namun, untuk konsep dasar Fisika yang bersifat mikroskopik, misalnya Radioaktivitas yang alat-alatnya jarang atau bahkan tidak ada di sekolah menengah, silakan langsung menggunakan aplikasi instan (PhET). Jadi, aplikasi instan sebisa mungkin posisinya adalah sebagai alternatif atau kolaborasi untuk laboratorium nyata.”

Pada sesi terakhir, peserta yang merupakan seorang guru dengan ketertarikan STEM sejak tahun 2016, kerap menemui permasalahan ketika menerapkan STEM dalam pembelajaran yaitu berbenturan dengan keterbatasan waktu. Solusi praktis yang disampaikan oleh Irma Rahma Suwarno, Ph.D. selaku pemateri pada sesi ini yaitu bahwa ada beberapa model pembelajaran seperti project based atau flip based learning yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran STEM dan dapat mengakomodasi keterbatasan waktu saat tatap muka di kelas. Misalnya, model project based learning memungkinkan guru untuk menerapkan scientific practice di kelas dan engineering practice di luar kelas. Contoh lain yaitu penerapan flip based learning yang memungkinkan siswa mengenali konsep secara mandiri di rumah untuk kemudian didiskusikan di kelas dengan suatu permasalahan sehingga mengkonstruksi pemahaman yang lebih dalam. Intinya adalah menyusun strategi terbaik dengan model pembelajaran yang paling sesuai.

 

 

Para peserta banyak yang mengapresiasi webinar ini karena prosesnya yang interaktif dan memberikan manfaat bagi karir peserta sehingga mereka merasa sangat berterima kasih. Seorang peserta, Lia Lutianasari, menyampaikan kesannya setelah mengikuti webinar, “Sangat bermanfaat, sebagai guru dituntut untuk profesional. Webinar ini memberikan penguatan untuk pemahaman yang sudah ada dan memberikan ilmu bagi yang belum diketahui. Terlebih,  saat ini saya sendiri sedang mendisiplinkan diri untuk memperbaiki diri agar menjadi guru yang seutuhnya. Dengan begitu tentunya akan berefek pada kualitas peserta didik yang saya ajar, dan dengan sendirinya, tentu akan mewarnai karir sebagai guru. Saya merasa senang, penuh dengan ilmu, walaupun akhirnya tugasnya banyak, tapi dijadikan sebagai sarana untuk memahami ilmu yang sudah diberikan. Pesannya, tanpa mengurangi rasa hormat, kehadiran Bapak/Ibu (Pemateri) banyak dinantikan dengan berbagi ilmunya. Terutama bagi yang haus akan ilmu, oleh karena itu teruslah berbagi dengan ilmunya”. Feri Apryandi, salah satu dosen Fisika UPI sekaligus panitia, menyampaikan bahwa kesuksesan acara ini adalah berkat materi yang menarik dan antusiasme peserta yang tinggi. Dia berharap antusiasme masyarakat terhadap diskusi-diskusi seperti ini dapat terus terjaga dan tumbuh sehingga dapat berkontribusi terhadap kemajuan SDM di Indonesia sesuai dengan tujuan Tri Dharma Perguruan Tinggi.