
Kota Bandung, 28 Juli 2024 – Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran fisika di Indonesia, program pengabdian kepada masyarakat (PKM) telah diadakan dengan mengusung tema “Webinar Penyusunan Modul Ajar Berbasis Etnofisika”. Kegiatan ini mengundang para guru fisika SMA atau sederajat untuk bergabung dan mempelajari cara menyusun modul ajar yang berbasis potensi dan kearifan lokal, serta mengaitkannya dengan konsep-konsep fisika.
Webinar yang berlangsung secara daring ini diselenggarakan setiap hari Sabtu dari tanggal 27 Juli 2024 hingga 7 September 2024. Jumlah pemateri yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak tiga ahli dan tujuh fasilitator dalam bidang pendidikan fisika yang siap mendampingi para peserta. Webinar ini diikuti oleh 107 partisipan yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, menunjukkan antusiasme tinggi dari para guru dalam mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan budaya lokal.

Sumber : Dokumentasi Tim Pania PKM Etnofisika
Pertemuan pertama yang telah dilaksanakan pada Sabtu, 27 Juli 2024, berlangsung dengan sukses. Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, Dr. Achmad Samsudin, M.Pd., memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan PKM ini. Dalam sambutannya, ia menyampaikan, “Kegiatan ini sangat baik untuk dilaksanakan. Semoga bermanfaat dan dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.” Ia juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis etnofisika dalam pembelajaran untuk memperkaya wawasan siswa mengenai hubungan antara konsep fisika dan budaya lokal mereka.
Para peserta diberikan pemaparan materi terkait pengenalan etnofisika, yang mencakup permainan berbasis etnofisika dan penggunaan peralatan yang diadaptasi dari kearifan lokal. Sesi ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada para guru tentang bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam pembelajaran fisika, sehingga materi yang disampaikan lebih kontekstual dan mudah dipahami oleh siswa.
Dr. Winny Liliawati, S.Pd., M.Si, seorang ahli dalam bidang etnofisika menyatakan bahwa webinar ini merupakan langkah awal dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan fisika di Indonesia melalui pendekatan yang inovatif. “Kami berharap melalui kegiatan ini, para guru dapat mengembangkan modul ajar yang tidak hanya menarik dan interaktif, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal yang kaya di Indonesia” . Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya pendekatan ini sebagai salah satu apresiasi budaya dan mendukung pembelajaran yang bermakna. “Etnofisika memungkinkan siswa untuk melihat hubungan langsung antara konsep fisika yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari dan budaya mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka tentang fisika, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal”, ujarnya.
Pada pertemuan kedua dan selanjutnya yang akan datang, peserta akan dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempresentasikan hasil kerja mereka dalam menyusun modul ajar berbasis etnofisika. Setiap kelompok akan didampingi oleh fasilitator untuk memastikan bahwa modul yang disusun memenuhi standar kualitas yang diharapkan.
Kegiatan ini masih akan berlangsung dengan total empat kali pertemuan, di mana setiap pertemuan diharapkan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi para peserta dalam menyusun modul ajar yang inovatif berbasis etnofisika. Pada pertemuan terakhir, akan diadakan sesi refleksi untuk mengevaluasi seluruh rangkaian kegiatan dan memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berbagi pengalaman serta feedback mereka. Para guru yang belum sempat mendaftar diharapkan dapat mengikuti kegiatan serupa di masa mendatang, sebagai bagian dari komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Adanya program PKM ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya untuk mengembangkan pendekatan serupa dalam pembelajaran pada mata pelajaran lain. Dengan mengedepankan potensi dan kearifan lokal, diharapkan pendidikan di Indonesia dapat lebih berdaya saing dan relevan dengan kebutuhan zaman.
(Penulis : Nurdini)